Ketidak Sengajaan yang Berujung Pada Percakapan Berharga

Ketidak Sengajaan yang Berujung Pada Percakapan Berharga

Setelah perjalanan dengan Hazel, saya menyadari bahwa terkadang, meskipun sudah berusaha, ada hal-hal yang membuat kita merasa tidak cocok satu sama lain. Namun, setiap pengalaman membawa kita lebih dekat pada pemahaman diri.

Sampai suatu hari, saya tidak sengaja bertemu Tama di pusat kuliner. Saat itu, saya sedang mengantri seafood dan tanpa sadar mengambil makanan yang ternyata bukan milik saya, melainkan milik Tama. "Maaf, Kak, itu punya saya," katanya sopan. Saya langsung tersadar dan buru-buru mengembalikan makanannya sambil berkata, "Maaf, Mas, saya nggak lihat. Ini, sorry ya." Tama hanya tersenyum, "Gapapa, Kak."

Dari situ, percakapan kecil mulai terjalin. Tama kemudian duduk di meja yang sama dan dengan santai bertanya, "Kakak suka seafood juga, ya?" Saya mengangguk, dan dari pertanyaan sederhana itu, entah bagaimana, kami malah terlibat dalam obrolan panjang yang tidak terduga. Kami berbicara tentang banyak hal, dari makanan, keseharian, hingga topik yang lebih dalam seperti kehidupan. Anehnya, tidak ada rasa canggung justru kami merasa nyaman seakan sudah mengenal lama.

Semakin banyak berbicara, semakin saya menyadari sesuatu: saya dan Tama adalah dua orang yang sama-sama kurang peka. Bukan karena tidak peduli, tapi karena sering mengira bahwa perasaan bisa dipahami tanpa harus diungkapkan. Kami pun sepakat sejak awal, jika ada sesuatu yang dirasa, kami harus berani speak up.

Lucunya, ketidak pekaan ini malah menciptakan interaksi unik di antara kami. Misalnya, Tama bukan tipe yang suka memulai chat duluan, jadi saya iseng berkata, "Tama, Tama, aku pengen dong diperhatiin hari ini." Dengan semangat, dia langsung menjawab, "Boleh, boleh, boleeehhh!" Hahahaha. Saya tertawa melihat reaksinya ternyata dia menikmati momen itu, seperti menemukan ruang aman untuk menjadi dirinya sendiri tanpa ragu-ragu.

Tapi yang paling bikin saya terharu adalah sisi lain dari Tama yang makin terlihat ketika kami semakin dekat. Tama itu sweet banget enggak tanggung-tanggung! Saat kami sedang telponan, tiba-tiba dia berkata, "Kamu nggak pernah kan dikiss 200 kali lebih sebrutal ini?" Saya kaget, lalu ngakak, tapi juga heran. Tama ini kenapa sih hahahaha.

Nggak berhenti di situ, semalam dia juga memposting foto saya di status WhatsApp-nya. Mungkin bagi sebagian orang ini hal biasa, tapi bagi saya ini berarti banget. Ini pertama kalinya saya merasa benar-benar dianggap dan dilihat keberadaan saya. Rasanya seperti, "Oh, jadi gini ya rasanya punya love story yang beneran?" Saya sampai terharu dan menangis sedikit bukan karena sedih, tapi karena merasa dihargai.

Saya tahu, mungkin ada yang membaca cerita ini dan berpikir, "Kok cerita kamu bahagia terus? Seolah-olah dibuat-buat, enggak ada sedihnya." Saya ingin mengatakan bahwa ini bukan soal menyembunyikan kesedihan atau hanya menampilkan bagian yang indah. Semua yang saya tulis adalah apa yang benar-benar saya alami. Saya pun pernah mengalami hal yang tidak berjalan sesuai harapan, seperti saat bersama Hazel, ketika akhirnya kami menemukan bahwa ada hal yang tidak bisa disatukan. Tapi apakah saya harus terus fokus pada itu?

Yang ingin saya bagikan di sini bukan sekadar cerita tentang hubungan, melainkan cara melihat kehidupan dengan perspektif yang lebih bersyukur. Saya ingin mengajak kalian untuk lebih peka terhadap momen-momen kecil yang sering terlewatkan senyuman yang tulus, perhatian sederhana, perasaan dihargai, bahkan percakapan ringan yang ternyata bisa membawa perubahan besar dalam cara kita melihat diri sendiri dan orang lain.

Dan di sinilah saya belajar sesuatu yang lebih dalam: setiap pertemuan, sekecil apa pun itu, punya pelajaran yang bisa kita ambil. Terkadang, hidup mempertemukan kita dengan seseorang bukan karena mereka akan menetap selamanya, tetapi untuk mengajarkan sesuatu yang penting tentang bagaimana kita seharusnya diperlakukan, tentang bagaimana kita bisa merasa cukup, dan tentang bagaimana kehadiran kita itu berharga.

Kadang, kita terlalu sibuk mencari seseorang yang bisa memberikan kepastian, sampai lupa bahwa perjalanan itu sendiri sudah memberikan banyak jawaban. Setiap momen, setiap tawa, dan setiap interaksi mengajarkan kita sesuatu. Mungkin bukan tentang siapa yang akan tetap tinggal, tapi tentang bagaimana kita bisa lebih memahami diri sendiri dalam setiap perjalanan yang kita lalui.

Jika kamu pernah mengalami hal serupa, bagaimana cara kamu menghadapinya? Kamu bisa berbagi di komentar atau menemukan lebih banyak inspirasi di Instagram-ku yaitu vanelptr dan belajar lebih dalam di Instagram mindkeepgoing.

-Vanelptr

Komentar

Postingan Populer