PENGARUH KEPEDULIAN TERHADAP MASA DEPAN PADA PERILAKU KONSUMEN HIJAU

 

PENGARUH KEPEDULIAN TERHADAP MASA DEPAN PADA PERILAKU KONSUMEN HIJAU

Try Rahma Sari1, Elvani Anisa Putri2, Dewi Kurniaty3

1,2,3Fakultas Ekonomi Universitas Paranadina

Email : tryrahmasari@students.paramadina.ac.id, elvani.putry@students.paramadina.ac.id, dewi.kurniaty@paramadina.ac.id

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepedulian terhadap masa depan pada perilaku konsumen hijau. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif yang berasal dari sampel orang–orang atau penduduk. Pengumpulan data menggunakan teknik penyebar kuisioner dengan jumlah sampel berjumlah 106 orang. Alat analisis yang digunakan adalah analisis uji korelasi. Hasil dari penelitian ini adalah: (1) kepedulian terhadap masa depan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap nilai konsumsi hijau, (2) kepedulian terhadap masa depan berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku konsumen (3) kepedulian terhadap masa depan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sikap prososial. Hal ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap masa depan telah memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap nilai konsumsi hijau,perilkau konsumen,dan sikap prososial.

Kata kunci: Masa depan, perilaku konsumen, konsumen hijau

ABSTRACT

This study aims to analyze the influence of concern for the future on green consumer behavior. The type of research used is quantitative research derived from a sample of people or residents. Data collection using questionnaire disseminator technique with a total sample of 106 people. The analysis tool used is correlation test analysis. The results of this study are: (1) concern for the future has a significant influence on the value of green consumption, (2) concern for the future has a significant effect on consumer behavior

(3) concern for the future has a significant influence on prosocial attitudes. This shows that concern for the future has had a positive and significant influence on the value of green consumption, consumer perception, and prosocial attitudes.

Keywords: Future, consumer behavior, green consumer

 

 

PENDAHULUAN

Zaman semakin berkembang, teknologi dan ilmu pengetahuan telah meningkatkan gaya hidup masyarakat. Gaya hidup masyarakat sekarang ditandai oleh pemakaian produk berbasis bahan kimia yang telah meningkatkan produksi limbah berbahaya bagi lingkungan hidup sekitar. Kerusakan lingkungan menurut (Biswas & Roy 2015) antara lain berupa pemanasan global, degradasi lingkungan (tanah, udara, dan air), penipisan lapisan ozon, serta berdampak pula pada menurunnya kualitas kehidupan sosial dan kesehatan. Menurut (Akenji, 2014) Dalam mengembangkan sistem produksi dan konsumsi berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan tidak hanya tergantung pada penggunaan teknologi dan perubahan teratur pada perilaku konsumen, namun juga pada kesediaan konsumen untuk mengambil bagian dalam mengurangi atau merubah perilaku konsumsi menjadi lebih hijau.

Pada Februari 2016, pemerintah Indonesia melalui Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menerapkan kebijakan baru terkait mengenai penggunaan tas plastik pada industri retail  seperti  swalayan,  dan  supermaket.  Kebijakan  ini  mengaharuskan  pembeli  untuk


memembayar kantong plastik sehingga kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah ini menyadarkan masyarakat untuk lebih peduli terhadap . Penelitian sebelumnya yang dilakukan di Indonesia terkait dengan konsumsi produk ramah lingkungan, lebih memusatkan pada penelitian mengenai faktor yang mempengaruhi perilaku pembelian produk ramah lingkungan (Ronnie Irawan & Dahlia Darmayanti 2008), sementara beberapa penelitian yang lebih khusus mengaitkan antara perilaku pembelian produk ramah lingkungan dengan faktor demografis (usia dan gender) di wilayah tertentu (Handyanto Widjojo, BR Yudianto 2015)

Menurut (Mas’od & Chin, 2014) Konsumen yang sadar terhadap keberlanjutan lingkungan akan memiliki ketertarikan terhadap perusahaan, produk, atau jasa yang ramah lingkungan. Isu-isu lingkungan ini tidak hanya mendorong munculnya produk-produk ramah lingkungan, tetapi juga perusahaan-perusahaan berbasis lingkungan. Sebuah komponen penting untuk mengamankan masa depan yang berkelanjutan adalah dengan mengurangi produksi dan konsumsi produk yang merusak lingkungan sambil mempromosikan lingkungan barang dan jasa yang ramah (Liobikiene dan Bernatoniene, 2017) tetapi mengapa beberapa konsumen tampaknya lebih peduli tentang masa depan lingkungan daripada yang lain? Membuat sebuah masa depan yang lebih hijau diam-diam di sebagian besar penelitian, namun sejauh mana perhatian terhadap keputusan konsumen moderat masa depan, tidak dipertimbangkan secara langsung, generasi mendatang, sementara penting untuk definisi pembangunan berkelanjutan, jarang disebutkan dalam konsumen hijau penelitian perilaku.

Penelitian sebelumnya pernah dilakukan oleh Shiel et al (2019) Dimana hasil penelitian akan masa depan (GEN) berkorelasi dengan nilai konsumsi hijau individu 0,01. Berarti bahwa peningkatan generativitas mengalami peningkatan 22,2 %. Sedangkan penelitian tentang kepedulian terhadap masa depan (GEN) Berkolerasi positif dengan sikap Proposial individu (PSA) . Korelasi antara generativitas dan sikap Poposial tenyata signifikan positif sebesar 0,164. Dapat diartikan bahwa generativitas berkorelasi positif dengan nilai konsumen hijau individu, pembelian perilaku dan sikap proposial.

Berdasarkan paparan dan gejala masalah tersebut, bagaimana konsep dari kepedulian konsumen terhadap masa depan pada perilaku konsumen hijau. Sehingga peneliti tergugah untuk melakukan penelitian dengan topik “Pengaruh kepedulian terhadap masa depan pada perilaku konsumen hijau. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan kontribusi sejauh mana konsep-konsep tentang kepedulian terhadap masa depan mempengaruhi nilai konsumen hijau, perilaku pembeli,dan sikap prososial. Dimulai dengan mempertimbangkan konsep generasi masa depan dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan, dengan alasan bahwa komitmen terhadap generasi mendatang merupakan pendorong potensial untuk konsumsi hijau dan dengan demikian mungkin ditampilkan dalam kampanye pemasaran sebelum melanjutkan untuk mengeksplorasi konsep generativitas dan sikap prososial, sebagai konstruksi yang digunakan untuk mengukur kepedulian terhadap masa depan dan kepedulian untuk yang lain.

KAJIAN TEORITIS

Generativitas

Generativitas mengacu pada "membuat kontribusi pada diri dan memberikan makna" di dunia dengan merawat orang lain serta menciptakan dan mencapai hal-hal yang membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Generativitas merupakan bentuk perhatian orang dewasa yang telah matang untuk membangun, mengarahkan, dan memengaruhi generasi berikutnya (Papalia &


Feldman, 2014). Generativitas juga berkaitan dengan konsumen. Menurut Sheth et al. (1991) untuk menjelaskan mengapa dan bagaimana konsumen memutuskan untuk memperoleh produk atau merek tertentu dari berbagai pilihan yang tersedia. Lima jenis nilai konsumsi generik yang memengaruhi pilihan dan perilaku konsumen dapat diidentifikasi: nilai fungsional, sosial, emosional, kondisional, dan epistemik. Panda et al., 2020), dan dengan demikian nilai-nilai tersebut meningkatkan kesadaran seseorang.

Kecenderungan untuk menghargai nilai konsumsi hijau, yang terkait dengan pilihan etis yang berfokus pada manfaat bagi orang lain daripada bagi konsumen itu sendiri (Carrington et al., 2021; Shaw et al., 2016). Sebaliknya, nilai-nilai terkait egoistik yang berfokus pada keuntungan pribadi konsumen—pada nilai ekonomi dan praktis—menghasilkan dampak negatif pada nilai konsumsi hijau konsumen. berhubungan positif dengan nilai konsumsi hijau Dollahite et al. (2019) menyatakan bahwa nilai generatif terkait dengan keyakinan agama dan spiritual yang mendorong perilaku berkelanjutan. Misalnya, Davari et al. (2017) menemukan bahwa religiusitas intrinsik dan ekstrinsik secara signifikan dan positif memprediksi konsumsi hijau konsumen. Dalam penelitian saat ini, nilai generatif (nilai bersyarat) mewakili persepsi konsumen tentang kegunaan memperpanjang siklus hidup produk yang tidak terpakai dengan membuatnya tersedia untuk orang lain.

Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa nilai generatif dikaitkan dengan dua tujuan berurutan: meningkatkan siklus hidup barang yang tidak terpakai sehingga barang tersedia untuk orang yang membutuhkannya dan menerapkan nilai konsumsi hijau untuk mencapai hal-hal yang membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. (Schal lehn et al., 2019) dan untuk menunjukkan kepedulian mereka kepada orang lain melalui konsumsi etis mereka (Shaw et al., 2016). pemrotes (nilai epistemis) mengacu pada persepsi konsumen tentang utilitasmemungkinkan orang lain untuk menghindari sistem pemasaran konvensional dan untuk menghindari pembelian baru. Dalam pengertian ini, nilai pengunjuk rasa terkait dengan nilai altruistik karena menekankan penyelesaian perilaku konsumsi berlebihan (Seegebarth et al., 2016) dan memelihara pola pembelian prolingkungan (Vicente-Molina et al., 2018), yang terkait erat dengan hijau nilai konsumsi. Konsep generativitas awalnya dikemukakan oleh Erikson (1950) sebagai salah satu dari delapan tahapan kehidupan manusia (generativitas versus stagnasi), yang terjadi di beberapa titik setelah usia 35 tahun. Konsep ini melibatkan kepedulian untuk membangun dan membimbing yang berikutnya generasi. Dengan demikian, Kotre (1984) mendefinisikan konsep generativitas sebagai keinginan untuk hidup dalam suatu cara apapun yang dilakukan, akan memiliki dampak yang bertahan melampaui umur individu; A "keinginan untuk menginvestasikan substansi seseorang dalam bentuk kehidupan dan pekerjaan yang akan hidup lebih lama dari diri sendiri" (p10). Kotre mengemukakan bahwa generativitas tidak terkait dengan fase kehidupan tertentu tetapi lebih bersifatan impuls yang mungkin dirilis di seluruh

Nilai Konsumen Hijau

Menurut Haws et al. (2014, hal. 337) konsumsi hijau nilai dapat didefinisikan sebagai “kecenderungan untuk mengeksplorasi nilai perlindungan lingkungan melalui perilaku pembelian dan konsumsi seseorang”. Seperti itu, seharusnya begitu individu dengan nilai konsumsi hijau yang lebih kuat lebih peduli dengan pelestarian sumber daya alam dan sebagai konsekuen sinyal akan lebih mungkin untuk membeli dengan cara yang bertanggung jawab - membuat pilihan ramah lingkungan yang mencerminkan kepedulian mereka tentang masa depan planet. Nilai konsumen hijau mempengaruhi perilaku konsumen dalam pembelian produk tertentu dan bagi konsumen


sendiri hal yang mereka inginkan dalam konsumen hijau adalah lingkungan. Konsumen mnginginkan yang ramah lingkungan, olah karena itu beberapa konsumen memilih produk ramah lingkungan dengan value yang mereka anut yaitu ramah lingkungan. Sebagian besar penelitian menyelidiki pengaruh nilai konsumsi terhadap niat beli (misalnya, Tandon et al., 2021; Talwar et al., 2020); tidak ada penelitian yang meneliti pengaruhnya terhadap keseluruhan nilai konsumsi hijau konsumen dan perilaku berkelanjutan selanjutnya.

Menurut Freestone dan McGoldrick (2008), konsumen yang beretika umumnya disebut sebagai individu yang sesuai dengan nilai-nilai konsumerisme hijau. Nilai konsumsi hijau konsumen terkait dengan kecenderungan konsumen untuk mengekspresikan nilai perlindungan lingkungan melalui perilaku pembelian dan konsumsi (Haws et al., 2014). Penelitian yang dilakukan oleh Lim (2020) menemukan bahwa konsumen termotivasi untuk mengadopsi nilai- nilai konsumsi hijau karena mereka menikmati praktik berbagi yang dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Hal ini dapat dijelaskan lebih lanjut oleh individu yang terkadang menunjukkan perilaku (misalnya, konsumsi yang tidak ramah lingkungan) yang tidak sesuai dengan nilai mereka (misalnya, konsumerisme etis) untuk mencapai tujuan tertentu (Schwartz, 1973). Misalnya, dalam konteks furnitur bekas, konsumen dengan tingkat nilai konsumsi hijau yang tinggi termotivasi untuk menjaga kualitas furnitur, dan selanjutnya, mereka dapat menjual kembali furnitur bekasnya agar bertanggung jawab terhadap lingkungan. konsumen (Ebring et al., 2016). Untuk mempertimbangkan konsumsi hijau, skala hijau yang digunakan oleh Haws et al. (2014) adalah digunakan sebagai prediktor preferensi konsumen untuk produk ramah lingkungan. Dari hasil permasalah dapat diambil hipotesis sebagai berikut:

H1: Kepedulian terhadap masa depan (GEN) berpengaruh positif pada nilai konsumsi hijau

Perilaku Pembelian

Perilaku pembeli adalah perilaku yang ditunjukan oleh orang-orang dalam hal merencanakan,membeli dan mengunakan barang-barang ekonomi dan jasa. Untuk mengukur Perilaku Membeli (BB), skala yang telah diuji dan digunakan pada konsumen model perilaku sebelumnya (Paço et al. 2013a, 2014) dipilih. Konsumen sering menghadapi informasi yang tidak lengkap tentang kualitas suatu produk sebelum membeli dan mengkonsumsinya. Mereka mungkin lebih suka barang bermerek yang mereka kenal atau yang memiliki reputasi untuk memasok produk dengan kualitas tertentu.

Dalam keseimbangan, reputasi terkait merek tersebut dapat muncul jika konsumen memiliki kemauan untuk membayar kualitas dan jika perusahaan dengan reputasi yang kuat memiliki insentif untuk terus memasok barang berkualitas tinggi di masa depan untuk mempertahankan harga premiumnya. Seperti yang ditulis Klein dan Leffler (1981, hlm. 616): “[E] para ekonomi juga telah lama menganggap 'reputasi' dan nama merek sebagai perangkat pribadi yang memberikan insentif yang menjamin kinerja kontrak tanpa adanya penegak pihak ketiga. Jika melihat cara konsumen membeli suatu barang dengan value skala hijau maka konsumen melhat dengan lengkap kualitas suatu produk yang mereka beli dan melihat bagaimana perusahaan dapat memberikan produk yang berkualita dan sesuai value konsumen. Niat pembelian merupakan bagian dari evalusi alternatif pra-pembelian pada model proses keputusan pembelian konsumen (Blackwell, Miniard, & Engel, 2012).Dalam keinginan konsumen terhadap produk ramah lingkungan tentu memberikan dampak yang langsung bagi lingkungan dan juga perusahaan memberikan kontribusi bagi lingkungan yang sehat pada masa sekarang dan masa depan nanti. Dari hasil permasalah dapat diambil hipotesis sebagai berikut:


H2: Kepedulian terhadap masa depan (GEN) berpengaruh positif pada perilaku pembelian.

Sikap Prososial

Prosocial Attitudes (PSA) diuji menggunakan skala yang diadaptasi dari Osgood dan Muraven (2015). Skala ini dipilih karena kapasitasnya untuk mengukur perilaku altruistic biasanya berkaitan dengan kepedulian terhadap lingkungan.Sebelumnya, Zabkar dan Hosta (2013) menerapkan ini skala dan berpendapat bahwa persepsi prososial bisa mengatasi perbedaan antara niat dan konsumsi hijau. Perilaku prososial dianggap sebagai perilaku sosial yang bermanfaat bagi individu lain atau bahkan masyarakat secara keseluruhan. Menurut aronson (2005)Perilaku prososial merupakan perilaku sukarela yang dimaksudkan untuk menguntungkan baik individu lain atau masyarakat secara keseluruhan (Aronson et al. 2005 )terlibat dalam perilaku seperti membantu, berbagi, menyumbang, bekerja sama, dan sukarela serta mematuhi aturan dan tetap kompatibel dengan perilaku yang diterima secara sosial. Dari hasil permasalah dapat diambil hipotesis sebagai berikut:

H3: Kepedulian terhadap masa depan (GEN) berpengaruh positif pada sikap prososial

Generasi Mendatang dan Pembangunan Berkelanjutan

Dalam pembangunan berkelanjutan, generasi mendatang menyadari bahwa sumber daya alam ialah bagian dari ekosistemnya. Karenanya, fungsi dari ekosistem itu sendiri harus dipertahankan. Pembangunan berkelanjutan begitu memperhatikan kesejahteraan generasi akan datang sekaligus berupaya untuk meningkatkan taraf hidup generasi saat ini. Pembangunan berkelanjutan dapat menghindari kemungkinan kelangkaan sumber daya alam sekaligus degradasi lingkungan. Dengan begitu, sumber daya alam seperti keanekaragaman hayati dapat terus lestari dan memenuhi ketahanan pangan, air, dan energi saat ini dan juga di masa yang akan datang.

Keberlanjutan telah muncul sebagai salah satu topik paling penting di era modern, dengan banyak perdebatan yang berpusat pada bagaimana konsumsi berkelanjutan dapat membantu mengurangi dampak lingkungan yang negatif, serta apa yang memotivasi konsumen untuk beralih ke konsumsi hijau, yang menghasilkan perilaku konsumen ramah lingkungan . Ern et al., 2022; Khan et al., 2020).

Gambar berikut ini menjelaskan model penelitian. Penelitian ini membahas aspek tentang kepedulian terhadap masa depan yaitu Nilai Konsumsi, Perilaku Pembelian, Sikap Proposial sehingga nantinya mempengaruhi kepedulian terhadap masa depan.


 

 

METODE

Desain yang digunakan Dalam penelitian yaitu desain deskriptif dengan menggunakan metode kuantitatif yang bertujuan untuk untuk menganalisis dan mengambarkan penelitian serta mencari kesimpulan apakah ada pengaruh antara variabel kepedulian terhadap masa depan pada variabel nilai konsumsi hijau, perilaku konsumen dan sikap prososial.selain itu pengujian instrument dilakukan mengunakan uji validitas, uji reliabilitas. Sedangkan pengujian untuk hipotesis dilakukan mengunakan analisis regresi sederhana dngan mengunakan uji korelasi , uji t parsial, uji F simultan. Sempel yang diambil sebanyak 106 responden. Teknik pengambilan dilakukan secara online melalui google from yaitu dengan memberikan alamat link kuesioner: https://forms.gle/2BGGPHWX38oBSzST6 sehingga mendapatkan data yang diperlukan. Skala yang dilakukan atas jawaban responden digunakan skala likert atas empat item pilihan yaitu sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, sangat setuju. Hasil dari jawaban responden akan terbaca langsung ole google dan selanjutnya melakukan penarikan data dalam format excel yang kemudian data tersebut diolah menggunakan aplikasi spss (startistical produk for service solution) versi 25

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Deskripsi Responden Penelitian

Data primer yang telah berhasil dikumpulkan oleh peneliti kemudian dianalisis. Analisis karakteristik responden meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan dan penghasilan.

No

Data Responden

Pilihan Jawaban

Frequency

Percent

1

Jenis kelamin

Perempuan

53

50

laki -laki

53

50

2

Usia

<20

9

8,5

20 -35

96

90,6

Lain-lain

1

0,9

3

Pendidikan

SD/SMP/SMA

33

31,1


 

 

 

D3/D4

5

 

S1/S2

68

64,2

 

Pekerjaan

1

Pelajar/Mahasiswa

 

75

 

70,8

2 wiraswasta

22

20,8

3 ibu rumah tangga

2

1,9

4 Pegawai negeri

1

0,9

5 dan lain-lain

6

5,7

5

Pendapatan

1 < 5.000.000

83

78,3

2 5.000.000 -

10.000.000

 

12

 

11,3

3 Dan lain-lain

11

10,4

3.2 Analisis pembahasan

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan uji validitas terhadap instrument penelitian mengunaka person correlation dengan tingkat signifikan 5% didapat nilai R tabel adalah 0,1606 yang diperoleh dari rumus degree of freedom (df)=n-2; (n= jumlah data: 106) maka didapatkan hasil df= 104. Dari gambar diketahui bahwa R hitung > R tabel dapat disimpulan bahwa dari item- item pertanyaan dalam variabel penelitian benilai positif sehingga dapat dinyatakan valid. Sedangkan untuk uji reliabilitas didapatka hasil sebagai berikut.

Variabel

Reliabilitas coefficient

Nilai Cronbach alpha

Nilai alpha

keterangan

Kepedulian terhadap    masa

depan

16 pertanyaan

0,849

0,60

Reliabel

Nilai konsumsi hijau

6 pertanyan

0,679

0,60

Reliabel

Perilaku konsumen

10 pertanyaan

0,872

0,60

Reliabel

Sikap prososial

6 pertanyaan

0,770

0,60

Reliabel

Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa variabel kepedulian terhadap masa depan dengan nilai (α= 0,849) sedangkan untuk variabek nilai konsumsi hijau dengan nilai (α=0,679) selanjutnya di ikuti oleh variabel perilaku konsumen dengan nilai (α=0,872) dan yang terakhir variabel sikap prososial dengan nilai (α=0,770). Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah nilai reliabilitas pada variabel ini lebih besar dari 0,60 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa ke empat variabel ini dinyatakan reliabel atau dipercaya. Berdasarkan hasil dari analisis pengujuan regresi yang telah dilakukan kepada ke empat variabel maka didapat hasil uji hipotesi antara kepeduliah terhadap masa depan pada nilai konsumsi hijau,perilaku pembeli, dan sikap prososial diterima. Dapat diartikan bahwa kepedulian terhadap masa depan memiliki pengaruh pada nilai konsumsi hijau, perilaku konsumen dan sikap prososial.

Hasil Uji Hipotesis

Hipotesis yang diajukan

Hasil pengujian


 

H1 Terdapat pengaruh kepedulian terhadap masa depan pada nilai konsumsi hijau

Diterima

H2 Terdapat pengaruh kepedulian terhadap masa depan pada perilaku pembeli

Diterima

H3 Terdapat pengaruh kepedulian terhadap masa depan pada sikap proposial

Diterima

Korelasi digunakan untuk menentukan seberapa kuat hubungan antara empat data apakah variabel bebas mempunyai hubungan yang kuat dengan variabel terikat. Dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

 

Kepedulian terhadap masa depan

Nilai konsumsi hijau

Perilaku Konsumen

Sikap Prososial

Kepedulian terhadap masa depan

Pearson Correlation

1

.513**

.351**

.548**

Sig. (2-tailed)

 

0,000

0,000

0,000

N

106

106

106

106

Nilai konsumsi hijau

Pearson Correlation

.513**

1

.728**

.551**

Sig. (2-tailed)

0,000

 

0,000

0,000

N

106

106

106

106

Perilaku konsumen

Pearson Correlation

.351**

.728**

1

.346**

Sig. (2-tailed)

0,000

0,000

 

0,000

N

106

106

106

106

Sikap Prososial

Pearson Correlation

.548**

.551**

.346**

1

Sig. (2-tailed)

0,000

0,000

0,000

 

N

106

106

106

106

Seperti yang terlihat pada tabel, korelasi antara kepedulian terhadap masa depan dan nilai konsumsi hijau positif dan signifikan taraf 0,01(2-tailed).ini berarti bahwa kepedulian terhadap masa depan berpengaruh pada nilai konsumsi hijau sebesar 51,3%. Hasil ini mendukung hipotesis 1: pengaruh kepedulian masa depan pada nilai konsumsi. Hasil tersebut mendukung hipotesis 2 yang menyatakan bahwa kepedulian terhadap masa depan mempengaruhi perilaku pembeli sebesar 35,1%. Dan untuk hipotesis 3 juga didukung bahwa kepedulian terhadap masa depan berpengaruh pada sikap prososial sebesar 54,8%. Dari keempat uji yang telah dilakukan dapat di artikan bahwa antara kepedulian terhadap masa depan mempengaruhi nilai konsumsi, perilaku pembeli dan sikap prososial.

Berikut ini adalah tabel uji hipotesi yang digunakan untuk menjawab hasil hipotesis sebagai berikut:

 

R square

F

T

Keterangan

Kepedulian terhadap masa depan pada nilai konsumsi hijau

 

0,264

 

37,217

 

6,101

Signifikan


 

Kepedulian terhadap masa depan pada perilaku pembeli

0,123

14,643

3,827

Signifikan

Kepedulian terhadap masa depan pada sikap prosial

0,301

44,683

6,685

Signifikan

Dari hasil tabel diatas nilai R Square kepedulian terhadap masa depan pada nilai kosumsi hijau sebesar 0,264 atau 26,4%. Dapat diartikan bahwa nilai R square ini siqnifikan. Dapat disimpulkan bahwa kepedulian terhadap masa depan memiliki pengaruh terhadap nilai konsumsi hijau. Sedangkan nilai R square kepedulian terhadap masa depan pada perilaku konsumen yaitu 0,123 atau 12,3 %. Nilai hasil pada perilaku konsumen ini signifikan. Dapat disimpulkan bahwa kepedulian terhadap masa depan mempengaruhi perilaku konsumen. Dan yang terakhir nilai R square kepedulian terhadap masa depan pada sikap prososial yaitu 0,301 atau 30,1%. Nilai R square ini menunjukan signifikan artinya bahwa kepedulian terhadap masa depan memiliki pengaruh pada sikap prososial. Dari keempat uji yang telah dilakukan dapat diambil kesimpualan bahwa kepedulian terhadap masa depan mempengaruhi nilai konsumsi hijau, perilaku pembeli dan sikap prososial.

Berdasarkan hasil uji F simultan, didapatkan hasil bahwa nilai Signifikansi F lebih kecil dari tingkat signifikansi yaitu 0,000 < 0,05, dan nilai F statistik > F tabel. Dari hasil uji F didapatkan hasilbahwa kepedulian terhadap masa depan (variabel X) pada nilai konsumsi hijau (variabel Y1) yaitu 37,217 > 2,46. Sedangkan untul uji F simultan kepedulian terhadap masa depan pada perilaku konsumen yaitu 14,643 >2,46. dan yang terakhir uji F simultan kepedulian terhadap masa depan pada sikap prososial yaitu 44,683>2,46. dari hasil uji F yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa kepedulian terhadap masa depan pada nilai konsumsi hijau, perilaku pembeli, sikap prososial signifikan atau juga diartikab bahwa kepedulian terhadap masa depan memiliki pengaruh positif pada nilai konsumsi hijau, perilaku pembeli dan sikap prososial

Berdasarkan hasil uji T parsial, didapatkan hasil bahwa kepedulian terhadap masa depan (variabel X) berpengaruh positif terhadap nilai konsumsi hijau (variabel Y1). Hasil penelitian diketahui bahwa nilai Sig.variabel < nilai probabilitas kritis = 5%) yaitu 0,000 < 0,05 dan nilai T hitung > T tabel yaitu 6,101 > 1,65993, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara kepedulian terhadap masa depan pada nilai konsumsi hijau. Hasil dari uji T parsial yang kedua yaitu kepedulian terhadap masa depan(X) berpengaruh positif terhadap perilaku konsumen (variabel Y2). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa nilai T hitung > T tabel yaitu 3,827 > 1,65993. Sehingga disimpulkan bahwa kepedulian terhadap masa depan memiliki pengaruh terhadap nilai konsumsi. Dan hasil uji T parsial yang ketiga bahwa kepedulian terhadap masa depan (varibael x) berpengaruh positif terhadap sikap prososial (variabel Y3). Hasil penelitian diketahui bahwa nilai T hitung > T tabel yaitu 6,685 > 1,64993. Sehingga disimpulkan bahwa kepedulian terhadap masa depan memiliki pengaruh pada sikap prosial. Kesimpulan dari uji T parsial ini adalah penelitian ini menerima hipotesis H1,H2,H3.

Analisis deskriptif pada variabel kepedulian terhadap masa depan pada nilai konsumsi hijau,perilaku pembeli dan sikap prososial didapatkan hasil bahwa ketiga variabel indipenden mempengaruhi perilaku konsumen. Semakin tinggi pengaruh kepedulian terhadap masa depan pada nilai konsumsi hijau, perilaku pembeli dan sikap prososial, maka semakin memudahkan konsumen dalam memahami lingkungan yang komplek. Selain itu untuk menumbuhkan perilaku konsumen ramah lingkungan diperlukan pengetahuan mengenai lingkungan. Dengan melakukan


pengujian ini kita dapat menumbuhkan perilaku konsumen hijau untuk kepedulian terhadap masa depan yang ramah lingkungan. Dan sejalan dengan penelitian dari Shiel (2019) yang didapatkan hasil bahwa adanya hubungan yang positif antara kepedulian terhadap masa depan pada nilai konsumsi hijau, Kepedulian terhadap masa depan pada perilaku pembeli dan kepedulian terhadap masa depan pada sikap prososial. Maka disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan sama-sama sejalan dengan penelitian shiel (2019) yang dimana hasilnya mempengaruhi antara variabel kepedulian terhadap masa depan pada nilai konsumsi hijau,perilaku pembeli dan sikap prososial. Juga penelitian dari (Khan dan Mohsin 2017) yang mendapatkan hasil penelitian bahwa adanya hubungan positif antara kepedulian terhadap masa depan dan sikap prososial. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa semakin tinggi kepedulian terhadap masa depan maka semakin meningkatkan nilai konsumsi hijau, perilaku pembeli, dan sikap prososial.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengunakan analisa data yang sudah dilakukan dengan mengunakan uji validitas, uji reabilitas, uji korelasi , uji regresi, uji R square, uji F simultan, uji T parsial didapatkan beberapa kesimpulan penelitian, yaitu: (1)Kepedulian terhadap masa depan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap nilai konsumsi hijau, (2)Kepedulian terhadap masa depan memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap perilaku pembeli, (3)Kepedulian terhadap masa depan memiliki berpengaruh secara signifikan terhadap sikap prososial.

DAFTAR PUSTAKA

Akenji, L. (2014). Consumer scapegoatism and limits to green consumerism. Journal of Cleaner Production, 63, 13–23. http://doi.org/10.1016/j.jclepro.2013.05.022

Aronson E, Wilson TD, Akert RM (2005) Psikologi sosial, edisi ke-5. Pendidikan Pearson, Upper Saddle River

Blackwell, R. D., Miniard, P. W., & Engel, J. F. (2012). Consumer Behavior. Singapore: Cengage Learning Asia Pte Ltd.

Biswas, A., & Roy, M. (2015). Green products : an exploratory study on the consumer behaviour in emerging economies of the East. Journal of Cleaner Production, 87, 463–468.

Carrington, M.J., Chatzidakis, A., Goworek, H., Shaw, D., 2021. Consumption ethics: a review and analysis of future directions for interdisciplinary research. J. Bus. Ethics 168, 215–238.

Davari, A., Iyer, P., Strutton, D., 2017. Investigating moral links between religiosity, altruism, and green consumption. J. Nonprofit Public Sect. Mark. 29 (4), 385–414.

Dollahite, D.C., Marks, L.D., Wurm, G.J., 2019. Generative devotion: a theory of sacred relational care in families of faith. J. Fam. Theory Rev. 11 (3), 429–448.

Edbring, E.G., Lehner, M., Mont, O., 2016. Exploring consumer attitudes to alternative models of consumption: motivations and barriers. J. Clean. Prod. 123 (4), 5–15

Erikson, E. (1950). Childhood and society. New York: Norton.

Ern, S.T.C., Dastane, O., Haba, H.F., 2022. Green consumption values and consumer behavior: evidence from Singapore. In: Innovative Economic, Social, and Environmental Practices for Progressing Future Sustainability. IGI Global, pp. 81–101.

Freestone, O.M., McGoldrick, P.J., 2008. Motivations of the ethical consumer. J. Bus. Ethics 79 (4), 445–467.


Handyanto Widjojo, B.R. Yudianto, 2015, 'Factors considered by Indonesian youth in buying green product', Purushartha, vol. VII, hal. 13-26.

Haws, K.L., Winterich, K.P., Naylor, R.W. (2014). Seeing the world through GREEN-tinted glasses: green consumption values and responses to environmentally friendly products. Journal of Consumer Psychology, 24(3), 336-354.

Khan, M.S., Saengon, P., Alganad, A.M.N., Chongcharoen, D., Farrukh, M., 2020. Consumer green behaviour: an approach towards environmental sustainability. Sustain. Dev. 28 (5), 1168–1180.

Khan, SN, & Mohsin, M. (2017). Strength of emotional value: Exploring the effects of consumer choice behavior for environmentally friendly products. Journal of Net Production, 150, 65– 74.

Klein, Benjamin, dan Keith B. Leffler.1981. “Peran Kekuatan Pasar dalam Menjamin Kontrak.” Jurnal Ekonomi Politik89 (4): 615–41.

Kotre, J. (1984). Outliving the self. Baltimore, MD: Johns Hopkins University Press.

Lim, W.M., 2020. The sharing economy: a marketing perspective. Australas. Mark. J. 28 (3), 4– 13.

Liobikienė, G., & Bernatonienė, J. (2017). Why determinants of green purchase cannot be treated equally? The case of green cosmetics: Literature review. Journal of Cleaner Production, 162, 109–120. https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2017.05.204

Mas’od, A., & Chin, T. A. (2014). Determining Socio-Demographic, Psychographic and Religiosity of Green Hotel Consumer in Malaysia. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 130, 479–489. http://doi.org/10.1016/j.sbspro.2014.04.056

Osgood, J.M., Muraven, M. (2015). Self-control depletion does not diminish attitudes about being prosocial but does diminish prosocial behaviors. Basic and Applied Social Psychology. 37, 68-80.

Paço, A., Alves, H., Shiel, C., Leal Filho, W. (2014). An analysis of the measurement of the construct “buying behaviour” in green marketing. Journal of Integrative and Environmental Sciences, 11(1), 55-69.

Paço, A., Alves, H., Shiel, C., Leal Filho, W. (2013a). Development of a green consumer behavior model. International Journal of Consumer Studies. 37, 414-429.

Panda, T.K., Kumar, A., Jakhar, S., Luthra, S., Garza-Reyes, J.A., Kazancoglu, I., Nayak, S.S., 2020. Social and environmental sustainability model on consumers’ altruism, green purchase intention, green brand loyalty and evangelism. J. Clean. Prod. 243, 118575

Papalia, D. E., & Feldman, R. D. (2014). Menyelami perkembangan manusia, ed. 12 Buku 2.

Jakarta: Penerbit Salemba Humanika

Ronnie Irawan & Dahlia Darmayanti, 2008, 'The influence factors of green purchasing behavior : A study of university students in Jakarta', Proceeding of 6th Asian Business Research Conference, hal.1-11.

Schallehn, H., Seuring, S., Str¨ahle, J., Freise, M., 2019. Customer experience creation for After- use

Schwartz, S.H., 1973. Normative explanations of helping behavior: a critique, proposal, and empirical test. J. Exp. Soc. Psychol. 9 (4), 349–364.


Seegebarth, B., Peyer, M., Balderjahn, I., Wiedmann, K.P., 2016. The sustainability roots of anticonsumption lifestyles and initial insights regarding their effects on consumers’ well- being. J. Consum. Aff. 50 (1), 68–99.

Shaw, D., McMaster, R., Newholm, T., 2016. Care and commitment in ethical consumption: an exploration of the ‘attitude–behaviour gap’. J. Bus. Ethics 136 (2), 251–265.

Sheth, J.N., Newman, B.I., Gross, B.L., 1991. Why we buy what we buy: a theory of consumption values. J. Bus. Res. 22 (2), 159–170.

Shiel C, Paço Ad, Alves H, Generativity, sustainable development and green consumer behavior,Jurnal Produksi Bersih(2019), doi:https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2019.118865.

Talwar, S., Dhir, A., Kaur, P., M¨antym¨aki, M., 2020. Why do people purchase from online travel agencies (OTAs)? A consumption values perspective. Int. J. Hosp. Manag. 88, 102534.

Tandon, A., Kaur, P., Bhatt, Y., M¨antym¨aki, M., Dhir, A., 2021. Why do people purchase from food delivery apps? A consumer value perspective. J. Retail. Consum. Serv. 63, 102667.

Vicente-Molina, M.A., Fern´andez-Sainz, A., Izagirre-Olaizola, J., 2018. Does gender make a difference in pro-environmental behavior? The case of the Basque Country University students. J. Clean. Prod. 176 (1), 89–98.

Zabkar, V., Hosta, M. (2013). Willingness to act and environmentally conscious consumer behaviour: can prosocial status perceptions help overcome the gap? International Journal of Consumer Studies. 37, 257–264.

Komentar

Postingan Populer