PENGARUH KEPEDULIAN TERHADAP MASA DEPAN PADA PERILAKU KONSUMEN HIJAU
PENGARUH KEPEDULIAN TERHADAP
MASA DEPAN PADA PERILAKU KONSUMEN HIJAU
Try Rahma Sari1, Elvani Anisa Putri2, Dewi Kurniaty3
1,2,3Fakultas Ekonomi
Universitas Paranadina
Email : tryrahmasari@students.paramadina.ac.id, elvani.putry@students.paramadina.ac.id, dewi.kurniaty@paramadina.ac.id
ABSTRAK
Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepedulian terhadap masa depan pada
perilaku konsumen hijau. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian
kuantitatif yang berasal dari sampel orang–orang atau penduduk. Pengumpulan
data menggunakan teknik penyebar kuisioner dengan jumlah sampel berjumlah 106 orang. Alat analisis yang digunakan adalah analisis uji korelasi. Hasil
dari penelitian ini adalah:
(1) kepedulian terhadap
masa depan memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap nilai konsumsi hijau, (2) kepedulian terhadap masa depan berpengaruh secara signifikan
terhadap perilaku konsumen (3) kepedulian terhadap masa depan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
sikap prososial. Hal ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap masa depan telah memberikan pengaruh yang positif dan
signifikan terhadap nilai konsumsi hijau,perilkau konsumen,dan sikap prososial.
Kata kunci: Masa depan,
perilaku konsumen, konsumen
hijau
ABSTRACT
This study aims to analyze the influence of concern for the future
on green consumer
behavior. The type of
research used is quantitative research
derived from a sample of people or residents. Data collection using questionnaire disseminator technique
with a total sample of 106 people. The analysis tool used is correlation test analysis. The results of this study
are: (1) concern
for the future
has a significant influence
on the value of green consumption, (2) concern for the future has a significant effect on consumer
behavior
(3) concern
for the future
has a significant influence on prosocial attitudes. This shows that concern for the
future has had a positive
and significant influence
on the value of green consumption, consumer
perception, and prosocial attitudes.
Keywords: Future, consumer behavior, green consumer
PENDAHULUAN
Zaman semakin berkembang, teknologi dan ilmu pengetahuan telah meningkatkan gaya hidup
masyarakat. Gaya hidup masyarakat sekarang ditandai oleh pemakaian produk
berbasis bahan kimia yang telah meningkatkan produksi limbah berbahaya bagi
lingkungan hidup sekitar. Kerusakan lingkungan menurut (Biswas & Roy 2015)
antara lain berupa pemanasan global, degradasi lingkungan (tanah, udara, dan
air), penipisan lapisan ozon, serta berdampak pula pada menurunnya kualitas
kehidupan sosial dan kesehatan. Menurut
(Akenji, 2014) Dalam mengembangkan sistem produksi
dan konsumsi berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan tidak hanya tergantung pada penggunaan
teknologi dan perubahan teratur pada perilaku konsumen, namun juga pada kesediaan konsumen untuk mengambil
bagian dalam mengurangi atau merubah perilaku
konsumsi menjadi lebih hijau.
Pada
Februari 2016, pemerintah Indonesia melalui Kementrian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan telah menerapkan kebijakan baru terkait
mengenai penggunaan tas plastik pada industri
retail
seperti swalayan, dan supermaket. Kebijakan ini mengaharuskan pembeli untuk
memembayar
kantong plastik sehingga kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah ini
menyadarkan masyarakat untuk lebih peduli terhadap . Penelitian sebelumnya yang
dilakukan di Indonesia terkait dengan konsumsi produk ramah lingkungan, lebih
memusatkan pada penelitian mengenai faktor yang mempengaruhi perilaku pembelian
produk ramah lingkungan (Ronnie Irawan & Dahlia
Darmayanti 2008), sementara beberapa penelitian yang lebih khusus
mengaitkan antara perilaku pembelian produk ramah lingkungan dengan
faktor demografis (usia dan gender) di wilayah tertentu (Handyanto Widjojo, BR
Yudianto 2015)
Menurut (Mas’od & Chin, 2014) Konsumen yang sadar terhadap keberlanjutan lingkungan akan memiliki ketertarikan terhadap perusahaan,
produk, atau jasa yang ramah lingkungan. Isu-isu lingkungan ini tidak hanya
mendorong munculnya produk-produk ramah lingkungan, tetapi juga
perusahaan-perusahaan berbasis lingkungan. Sebuah komponen penting untuk mengamankan
masa depan yang berkelanjutan adalah dengan mengurangi produksi dan konsumsi
produk yang merusak lingkungan sambil
mempromosikan lingkungan barang
dan jasa yang ramah
(Liobikiene dan Bernatoniene, 2017)
tetapi mengapa beberapa
konsumen tampaknya lebih
peduli tentang masa depan lingkungan daripada yang lain?
Membuat sebuah masa depan yang lebih hijau diam-diam di sebagian besar penelitian, namun sejauh mana perhatian terhadap
keputusan konsumen moderat masa depan, tidak dipertimbangkan
secara langsung, generasi mendatang, sementara penting untuk definisi
pembangunan berkelanjutan, jarang disebutkan dalam konsumen hijau penelitian perilaku.
Penelitian sebelumnya pernah dilakukan oleh Shiel
et al
(2019) Dimana hasil penelitian akan masa depan (GEN) berkorelasi dengan
nilai konsumsi hijau individu 0,01. Berarti
bahwa peningkatan generativitas mengalami peningkatan 22,2 %. Sedangkan penelitian tentang kepedulian
terhadap masa depan (GEN) Berkolerasi
positif dengan sikap Proposial individu
(PSA) . Korelasi antara generativitas dan sikap Poposial tenyata signifikan positif
sebesar 0,164. Dapat diartikan bahwa generativitas berkorelasi positif dengan nilai konsumen hijau individu,
pembelian perilaku dan sikap proposial.
Berdasarkan paparan dan gejala masalah
tersebut, bagaimana konsep
dari kepedulian konsumen terhadap masa depan pada perilaku konsumen
hijau. Sehingga peneliti
tergugah untuk melakukan penelitian dengan
topik “Pengaruh kepedulian terhadap masa depan
pada perilaku konsumen
hijau. Penelitian ini
bertujuan untuk memberikan kontribusi sejauh
mana konsep-konsep tentang kepedulian terhadap masa depan mempengaruhi nilai konsumen hijau, perilaku pembeli,dan sikap prososial. Dimulai dengan mempertimbangkan konsep generasi
masa depan dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan, dengan alasan
bahwa komitmen terhadap generasi mendatang merupakan pendorong
potensial untuk konsumsi
hijau dan dengan demikian mungkin ditampilkan dalam kampanye
pemasaran sebelum melanjutkan untuk mengeksplorasi konsep generativitas dan sikap prososial, sebagai konstruksi yang digunakan untuk mengukur kepedulian terhadap masa depan dan
kepedulian untuk yang lain.
KAJIAN TEORITIS
Generativitas
Generativitas mengacu pada "membuat kontribusi pada diri dan
memberikan makna" di dunia dengan merawat orang lain serta menciptakan dan
mencapai hal-hal yang membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.
Generativitas merupakan bentuk perhatian orang dewasa yang telah matang untuk membangun, mengarahkan, dan memengaruhi generasi berikutnya (Papalia
&
Feldman, 2014).
Generativitas juga berkaitan dengan konsumen. Menurut
Sheth et al. (1991) untuk menjelaskan mengapa dan bagaimana
konsumen memutuskan untuk memperoleh produk atau merek tertentu dari berbagai
pilihan yang tersedia. Lima jenis nilai konsumsi generik yang memengaruhi
pilihan dan perilaku konsumen dapat diidentifikasi: nilai fungsional, sosial,
emosional, kondisional, dan epistemik. Panda et al., 2020), dan dengan demikian
nilai-nilai tersebut meningkatkan kesadaran seseorang.
Kecenderungan
untuk menghargai nilai konsumsi hijau, yang terkait dengan pilihan etis yang berfokus
pada manfaat bagi orang lain daripada bagi konsumen itu sendiri (Carrington et al., 2021; Shaw
et al., 2016). Sebaliknya, nilai-nilai terkait egoistik yang berfokus pada
keuntungan pribadi konsumen—pada nilai ekonomi dan praktis—menghasilkan dampak
negatif pada nilai konsumsi hijau konsumen. berhubungan positif dengan
nilai konsumsi hijau
Dollahite et al. (2019)
menyatakan bahwa nilai generatif terkait
dengan keyakinan agama dan spiritual yang mendorong
perilaku berkelanjutan. Misalnya, Davari et al. (2017) menemukan bahwa religiusitas intrinsik dan ekstrinsik secara signifikan dan positif memprediksi konsumsi hijau konsumen.
Dalam penelitian saat ini,
nilai generatif (nilai bersyarat) mewakili persepsi konsumen tentang kegunaan
memperpanjang siklus hidup
produk yang tidak
terpakai dengan membuatnya tersedia untuk orang lain.
Studi
sebelumnya telah menunjukkan bahwa nilai generatif dikaitkan dengan dua tujuan
berurutan: meningkatkan siklus hidup barang yang tidak terpakai sehingga barang
tersedia untuk orang yang membutuhkannya dan menerapkan nilai konsumsi
hijau untuk mencapai hal-hal yang membuat dunia menjadi
tempat yang lebih baik. (Schal lehn et al., 2019) dan untuk
menunjukkan kepedulian mereka kepada orang lain melalui konsumsi
etis mereka (Shaw et al., 2016). pemrotes (nilai epistemis) mengacu pada persepsi konsumen
tentang utilitasmemungkinkan orang
lain untuk menghindari sistem
pemasaran konvensional dan untuk menghindari pembelian baru. Dalam pengertian ini, nilai pengunjuk rasa terkait dengan
nilai altruistik karena
menekankan penyelesaian
perilaku konsumsi berlebihan (Seegebarth et al., 2016) dan memelihara pola
pembelian prolingkungan (Vicente-Molina et al., 2018), yang terkait erat dengan
hijau nilai konsumsi. Konsep generativitas awalnya dikemukakan oleh Erikson
(1950) sebagai salah satu dari delapan tahapan kehidupan manusia (generativitas
versus stagnasi), yang terjadi di beberapa titik setelah usia 35 tahun. Konsep
ini melibatkan kepedulian untuk membangun dan membimbing yang berikutnya generasi.
Dengan demikian, Kotre (1984) mendefinisikan konsep generativitas sebagai keinginan untuk hidup dalam suatu
cara apapun yang dilakukan, akan memiliki dampak yang bertahan melampaui umur
individu; A "keinginan untuk menginvestasikan substansi seseorang dalam bentuk
kehidupan dan pekerjaan yang akan hidup
lebih lama dari diri sendiri" (p10). Kotre
mengemukakan bahwa generativitas tidak terkait dengan fase kehidupan tertentu
tetapi lebih bersifatan impuls yang mungkin dirilis di seluruh
Nilai Konsumen
Hijau
Menurut Haws et al. (2014, hal. 337) konsumsi hijau nilai dapat didefinisikan
sebagai “kecenderungan untuk mengeksplorasi nilai perlindungan lingkungan melalui perilaku pembelian dan konsumsi seseorang”. Seperti
itu, seharusnya begitu individu dengan nilai konsumsi hijau yang lebih kuat
lebih peduli dengan pelestarian sumber daya alam dan sebagai konsekuen sinyal
akan lebih mungkin untuk membeli
dengan cara yang bertanggung jawab
- membuat pilihan
ramah lingkungan yang mencerminkan kepedulian mereka tentang masa depan
planet. Nilai konsumen hijau mempengaruhi perilaku
konsumen dalam pembelian
produk tertentu dan bagi konsumen
sendiri
hal yang mereka inginkan dalam konsumen hijau adalah lingkungan. Konsumen
mnginginkan yang ramah lingkungan, olah karena itu beberapa konsumen
memilih produk ramah lingkungan dengan value yang mereka
anut yaitu ramah lingkungan. Sebagian besar penelitian menyelidiki pengaruh
nilai konsumsi terhadap niat
beli (misalnya, Tandon et al., 2021;
Talwar et al., 2020); tidak ada penelitian yang meneliti pengaruhnya terhadap
keseluruhan nilai konsumsi hijau konsumen dan perilaku berkelanjutan
selanjutnya.
Menurut
Freestone dan McGoldrick (2008), konsumen yang beretika umumnya disebut sebagai
individu yang sesuai dengan nilai-nilai konsumerisme hijau. Nilai konsumsi
hijau konsumen terkait dengan kecenderungan konsumen untuk mengekspresikan
nilai perlindungan lingkungan melalui perilaku pembelian dan konsumsi (Haws et
al., 2014). Penelitian yang dilakukan oleh Lim (2020) menemukan bahwa konsumen
termotivasi untuk mengadopsi nilai- nilai konsumsi hijau karena mereka
menikmati praktik berbagi yang dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi
masyarakat. Hal ini dapat dijelaskan lebih lanjut oleh individu yang terkadang
menunjukkan perilaku (misalnya, konsumsi yang tidak ramah lingkungan) yang
tidak sesuai dengan nilai mereka (misalnya, konsumerisme etis) untuk mencapai
tujuan tertentu (Schwartz, 1973). Misalnya, dalam konteks furnitur bekas,
konsumen dengan tingkat nilai konsumsi hijau yang tinggi termotivasi untuk
menjaga kualitas furnitur, dan selanjutnya, mereka dapat menjual kembali furnitur
bekasnya agar bertanggung jawab terhadap lingkungan. konsumen (Ebring et al., 2016). Untuk mempertimbangkan konsumsi
hijau, skala hijau yang digunakan
oleh Haws et al. (2014) adalah digunakan sebagai prediktor preferensi
konsumen untuk produk ramah
lingkungan. Dari hasil permasalah dapat diambil hipotesis sebagai berikut:
H1: Kepedulian terhadap
masa depan (GEN) berpengaruh positif
pada nilai konsumsi
hijau
Perilaku Pembelian
Perilaku pembeli adalah perilaku yang ditunjukan oleh orang-orang dalam
hal merencanakan,membeli dan mengunakan barang-barang ekonomi dan jasa. Untuk
mengukur Perilaku Membeli (BB), skala yang telah diuji dan digunakan pada
konsumen model perilaku sebelumnya (Paço et al. 2013a,
2014) dipilih. Konsumen
sering menghadapi informasi
yang tidak lengkap tentang
kualitas suatu produk
sebelum membeli dan mengkonsumsinya. Mereka
mungkin lebih suka barang bermerek yang mereka kenal atau yang memiliki
reputasi untuk memasok produk dengan kualitas tertentu.
Dalam
keseimbangan, reputasi terkait merek tersebut dapat muncul jika konsumen memiliki
kemauan untuk membayar kualitas dan jika perusahaan dengan reputasi yang kuat
memiliki insentif untuk terus memasok barang berkualitas tinggi di masa depan
untuk mempertahankan harga premiumnya. Seperti yang ditulis
Klein dan Leffler
(1981, hlm. 616): “[E]
para ekonomi juga telah lama menganggap 'reputasi' dan nama merek sebagai
perangkat pribadi yang memberikan insentif
yang menjamin kinerja
kontrak tanpa adanya
penegak pihak ketiga.
Jika melihat cara konsumen membeli suatu barang dengan value skala hijau
maka konsumen melhat dengan lengkap kualitas
suatu produk yang mereka beli dan melihat
bagaimana perusahaan dapat memberikan produk yang berkualita
dan sesuai value konsumen. Niat pembelian merupakan bagian dari evalusi
alternatif pra-pembelian pada model proses keputusan pembelian konsumen
(Blackwell, Miniard, & Engel, 2012).Dalam keinginan konsumen terhadap produk
ramah lingkungan tentu memberikan dampak yang langsung bagi lingkungan dan juga
perusahaan memberikan kontribusi bagi lingkungan yang sehat pada masa sekarang
dan masa depan nanti. Dari hasil permasalah dapat diambil hipotesis sebagai
berikut:
H2: Kepedulian terhadap masa depan
(GEN) berpengaruh positif
pada perilaku pembelian.
Sikap Prososial
Prosocial
Attitudes (PSA) diuji menggunakan skala yang diadaptasi dari Osgood dan Muraven
(2015). Skala ini dipilih karena
kapasitasnya untuk mengukur
perilaku altruistic biasanya
berkaitan dengan kepedulian terhadap lingkungan.Sebelumnya, Zabkar dan
Hosta (2013) menerapkan ini skala dan berpendapat bahwa persepsi prososial bisa
mengatasi perbedaan antara niat dan konsumsi
hijau. Perilaku prososial
dianggap sebagai perilaku
sosial yang bermanfaat bagi individu lain
atau bahkan masyarakat secara keseluruhan. Menurut aronson (2005)Perilaku
prososial merupakan perilaku sukarela yang dimaksudkan untuk menguntungkan baik
individu lain atau masyarakat secara keseluruhan (Aronson et al. 2005 )terlibat
dalam perilaku seperti membantu, berbagi, menyumbang, bekerja sama, dan
sukarela serta mematuhi aturan dan tetap kompatibel dengan perilaku
yang diterima secara
sosial. Dari hasil
permasalah dapat diambil
hipotesis sebagai berikut:
H3: Kepedulian terhadap masa depan (GEN) berpengaruh positif pada sikap
prososial
Generasi Mendatang dan Pembangunan Berkelanjutan
Dalam pembangunan berkelanjutan, generasi mendatang menyadari bahwa
sumber daya alam ialah bagian dari ekosistemnya. Karenanya, fungsi dari ekosistem
itu sendiri harus dipertahankan.
Pembangunan berkelanjutan begitu
memperhatikan kesejahteraan generasi akan datang sekaligus
berupaya untuk meningkatkan taraf hidup generasi saat ini. Pembangunan
berkelanjutan dapat menghindari kemungkinan kelangkaan sumber daya alam sekaligus degradasi lingkungan. Dengan
begitu, sumber daya alam seperti keanekaragaman hayati dapat terus lestari dan
memenuhi ketahanan pangan, air, dan energi saat ini dan juga di masa yang akan
datang.
Keberlanjutan telah muncul sebagai
salah satu topik paling penting
di era modern, dengan banyak perdebatan yang berpusat pada
bagaimana konsumsi berkelanjutan dapat membantu mengurangi dampak lingkungan yang negatif, serta apa yang memotivasi konsumen
untuk beralih ke konsumsi
hijau, yang menghasilkan perilaku konsumen ramah lingkungan . Ern et al., 2022;
Khan et al., 2020).
Gambar
berikut ini menjelaskan model penelitian. Penelitian ini membahas aspek tentang
kepedulian terhadap masa depan yaitu Nilai
Konsumsi, Perilaku Pembelian, Sikap Proposial sehingga nantinya mempengaruhi
kepedulian terhadap masa depan.

METODE
Desain yang digunakan Dalam penelitian yaitu desain deskriptif dengan
menggunakan metode kuantitatif yang bertujuan untuk untuk menganalisis dan
mengambarkan penelitian serta mencari kesimpulan apakah ada pengaruh antara
variabel kepedulian terhadap masa depan pada variabel nilai konsumsi hijau,
perilaku konsumen dan sikap prososial.selain itu pengujian instrument dilakukan
mengunakan uji validitas, uji reliabilitas. Sedangkan pengujian untuk hipotesis dilakukan mengunakan analisis regresi
sederhana dngan mengunakan uji korelasi , uji t parsial, uji F simultan. Sempel yang
diambil sebanyak 106 responden. Teknik pengambilan dilakukan secara online
melalui google from yaitu dengan memberikan alamat link kuesioner:
https://forms.gle/2BGGPHWX38oBSzST6 sehingga mendapatkan data yang diperlukan.
Skala yang dilakukan atas jawaban responden digunakan skala likert atas empat
item pilihan yaitu
sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, sangat setuju. Hasil dari
jawaban responden akan terbaca langsung ole google dan selanjutnya melakukan
penarikan data dalam format excel yang
kemudian data tersebut diolah menggunakan aplikasi spss (startistical produk for service
solution) versi 25
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Deskripsi Responden Penelitian
Data primer yang telah berhasil dikumpulkan oleh peneliti kemudian
dianalisis. Analisis karakteristik responden meliputi jenis kelamin, usia,
pendidikan, pekerjaan dan penghasilan.
|
No |
Data
Responden |
Pilihan Jawaban |
Frequency |
Percent |
|
1 |
Jenis kelamin |
Perempuan |
53 |
50 |
|
laki -laki |
53 |
50 |
||
|
2 |
Usia |
<20 |
9 |
8,5 |
|
20 -35 |
96 |
90,6 |
||
|
Lain-lain |
1 |
0,9 |
||
|
3 |
Pendidikan |
SD/SMP/SMA |
33 |
31,1 |
|
|
|
D3/D4 |
5 |
|
|
S1/S2 |
68 |
64,2 |
||
|
|
Pekerjaan |
1 Pelajar/Mahasiswa |
75 |
70,8 |
|
2 wiraswasta |
22 |
20,8 |
||
|
3
ibu rumah tangga |
2 |
1,9 |
||
|
4 Pegawai negeri |
1 |
0,9 |
||
|
5 dan
lain-lain |
6 |
5,7 |
||
|
5 |
Pendapatan |
1
< 5.000.000 |
83 |
78,3 |
|
2 5.000.000 - 10.000.000 |
12 |
11,3 |
||
|
3 Dan lain-lain |
11 |
10,4 |
3.2
Analisis pembahasan
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan uji validitas terhadap instrument penelitian mengunaka person correlation dengan tingkat
signifikan 5% didapat nilai R tabel adalah 0,1606 yang diperoleh dari rumus degree of freedom (df)=n-2; (n= jumlah
data: 106) maka didapatkan hasil df= 104. Dari gambar
diketahui bahwa R hitung > R tabel dapat disimpulan bahwa dari item- item pertanyaan dalam variabel
penelitian benilai positif sehingga
dapat dinyatakan valid. Sedangkan untuk uji reliabilitas didapatka hasil
sebagai berikut.
|
Variabel |
Reliabilitas coefficient |
Nilai Cronbach
alpha |
Nilai alpha |
keterangan |
|
Kepedulian terhadap masa depan |
16 pertanyaan |
0,849 |
0,60 |
Reliabel |
|
Nilai konsumsi
hijau |
6 pertanyan |
0,679 |
0,60 |
Reliabel |
|
Perilaku konsumen |
10 pertanyaan |
0,872 |
0,60 |
Reliabel |
|
Sikap prososial |
6 pertanyaan |
0,770 |
0,60 |
Reliabel |
Berdasarkan
tabel dapat dilihat bahwa variabel kepedulian terhadap masa depan dengan nilai (α= 0,849) sedangkan untuk variabek nilai
konsumsi hijau dengan
nilai (α=0,679) selanjutnya di ikuti oleh variabel
perilaku konsumen dengan nilai
(α=0,872) dan yang terakhir variabel sikap prososial dengan nilai (α=0,770). Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah nilai reliabilitas pada variabel ini lebih besar dari 0,60 sehingga dapat diambil
kesimpulan bahwa ke empat
variabel ini dinyatakan reliabel atau dipercaya. Berdasarkan hasil dari analisis
pengujuan regresi yang telah dilakukan kepada ke empat variabel maka didapat
hasil uji hipotesi antara kepeduliah terhadap masa depan pada nilai konsumsi
hijau,perilaku pembeli, dan sikap prososial diterima. Dapat diartikan bahwa
kepedulian terhadap masa depan memiliki pengaruh pada nilai konsumsi hijau,
perilaku konsumen dan sikap prososial.
Hasil Uji Hipotesis
|
|
Hasil pengujian |
|
H1 Terdapat pengaruh kepedulian terhadap
masa depan pada nilai konsumsi hijau |
Diterima |
|
H2 Terdapat pengaruh kepedulian terhadap masa depan pada perilaku
pembeli |
Diterima |
|
H3 Terdapat pengaruh kepedulian terhadap
masa depan pada sikap proposial |
Diterima |
Korelasi digunakan untuk menentukan seberapa kuat hubungan antara empat
data apakah variabel bebas mempunyai hubungan yang kuat dengan variabel
terikat. Dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
|
|
Kepedulian terhadap masa depan |
Nilai konsumsi hijau |
Perilaku
Konsumen |
Sikap Prososial |
|
|
Kepedulian
terhadap masa depan |
Pearson Correlation |
1 |
.513** |
.351** |
.548** |
|
Sig. (2-tailed) |
|
0,000 |
0,000 |
0,000 |
|
|
N |
106 |
106 |
106 |
106 |
|
|
Nilai konsumsi hijau |
Pearson Correlation |
.513** |
1 |
.728** |
.551** |
|
Sig. (2-tailed) |
0,000 |
|
0,000 |
0,000 |
|
|
N |
106 |
106 |
106 |
106 |
|
|
Perilaku
konsumen |
Pearson Correlation |
.351** |
.728** |
1 |
.346** |
|
Sig. (2-tailed) |
0,000 |
0,000 |
|
0,000 |
|
|
N |
106 |
106 |
106 |
106 |
|
|
Sikap Prososial |
Pearson Correlation |
.548** |
.551** |
.346** |
1 |
|
Sig. (2-tailed) |
0,000 |
0,000 |
0,000 |
|
|
|
N |
106 |
106 |
106 |
106 |
|
Seperti
yang terlihat pada tabel, korelasi antara kepedulian terhadap masa depan dan nilai konsumsi hijau positif dan signifikan taraf
0,01(2-tailed).ini berarti bahwa kepedulian terhadap masa depan
berpengaruh pada nilai konsumsi hijau sebesar 51,3%. Hasil ini mendukung hipotesis 1: pengaruh kepedulian masa
depan pada nilai konsumsi. Hasil tersebut mendukung hipotesis 2 yang menyatakan
bahwa kepedulian terhadap masa depan
mempengaruhi perilaku pembeli sebesar 35,1%. Dan untuk hipotesis 3 juga
didukung bahwa kepedulian terhadap masa depan berpengaruh pada sikap prososial
sebesar 54,8%. Dari keempat uji yang telah dilakukan dapat di artikan bahwa
antara kepedulian terhadap masa depan mempengaruhi nilai konsumsi, perilaku
pembeli dan sikap prososial.
Berikut ini adalah
tabel uji hipotesi yang digunakan untuk menjawab hasil hipotesis sebagai
berikut:
|
|
R square |
F |
T |
Keterangan |
|
Kepedulian
terhadap masa depan pada nilai konsumsi hijau |
0,264 |
37,217 |
6,101 |
Signifikan |
|
Kepedulian terhadap masa
depan pada perilaku pembeli |
0,123 |
14,643 |
3,827 |
Signifikan |
|
Kepedulian terhadap masa depan pada
sikap prosial |
0,301 |
44,683 |
6,685 |
Signifikan |
Dari
hasil tabel diatas nilai R Square kepedulian terhadap masa depan pada nilai
kosumsi hijau sebesar 0,264 atau 26,4%. Dapat diartikan bahwa nilai R square
ini siqnifikan. Dapat disimpulkan bahwa kepedulian terhadap masa depan memiliki
pengaruh terhadap nilai konsumsi hijau. Sedangkan nilai R square kepedulian
terhadap masa depan pada perilaku konsumen yaitu 0,123 atau 12,3 %. Nilai hasil
pada perilaku konsumen ini signifikan. Dapat disimpulkan bahwa kepedulian
terhadap masa depan mempengaruhi perilaku konsumen. Dan yang terakhir nilai R square kepedulian terhadap masa depan pada
sikap prososial yaitu 0,301 atau 30,1%. Nilai R square ini menunjukan
signifikan artinya bahwa kepedulian terhadap masa depan memiliki pengaruh pada sikap prososial. Dari
keempat uji yang telah dilakukan dapat diambil kesimpualan bahwa kepedulian terhadap masa depan mempengaruhi nilai konsumsi hijau,
perilaku pembeli dan sikap prososial.
Berdasarkan
hasil uji F simultan, didapatkan hasil bahwa nilai Signifikansi F lebih kecil
dari tingkat signifikansi yaitu 0,000 < 0,05, dan nilai F statistik > F
tabel. Dari hasil uji F didapatkan hasilbahwa kepedulian terhadap masa depan
(variabel X) pada nilai konsumsi hijau (variabel Y1) yaitu 37,217
> 2,46. Sedangkan untul uji F simultan kepedulian terhadap masa depan pada perilaku konsumen yaitu 14,643 >2,46.
dan yang terakhir
uji F simultan kepedulian terhadap masa depan pada sikap prososial yaitu 44,683>2,46. dari hasil uji F yang dilakukan dapat diambil
kesimpulan bahwa kepedulian terhadap masa depan pada nilai konsumsi hijau,
perilaku pembeli, sikap prososial signifikan atau juga diartikab bahwa
kepedulian terhadap masa depan memiliki pengaruh positif pada nilai konsumsi
hijau, perilaku pembeli dan sikap prososial
Berdasarkan hasil uji T parsial, didapatkan hasil bahwa kepedulian
terhadap masa depan (variabel X) berpengaruh positif terhadap nilai konsumsi
hijau (variabel Y1). Hasil penelitian
diketahui bahwa nilai Sig.variabel < nilai probabilitas kritis (α = 5%) yaitu
0,000 < 0,05 dan nilai
T hitung > T tabel yaitu 6,101 > 1,65993, sehingga dapat disimpulkan
bahwa terdapat pengaruh antara kepedulian terhadap masa depan pada nilai
konsumsi hijau. Hasil dari uji T parsial yang kedua yaitu kepedulian terhadap
masa depan(X) berpengaruh positif terhadap perilaku
konsumen (variabel Y2). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa nilai T
hitung > T tabel yaitu 3,827 > 1,65993. Sehingga disimpulkan bahwa
kepedulian terhadap masa depan memiliki pengaruh terhadap nilai konsumsi. Dan
hasil uji T parsial yang ketiga bahwa kepedulian terhadap masa depan (varibael
x) berpengaruh positif terhadap sikap prososial (variabel Y3). Hasil penelitian
diketahui bahwa nilai T hitung > T tabel yaitu 6,685 > 1,64993. Sehingga
disimpulkan bahwa kepedulian terhadap masa depan memiliki pengaruh pada sikap
prosial. Kesimpulan dari uji T parsial ini adalah penelitian ini menerima
hipotesis H1,H2,H3.
Analisis deskriptif pada variabel kepedulian terhadap masa depan pada
nilai konsumsi hijau,perilaku pembeli dan sikap prososial didapatkan hasil
bahwa ketiga variabel indipenden mempengaruhi perilaku konsumen. Semakin tinggi
pengaruh kepedulian terhadap masa depan pada nilai konsumsi hijau, perilaku
pembeli dan sikap prososial, maka semakin memudahkan konsumen dalam memahami
lingkungan yang komplek. Selain itu untuk menumbuhkan perilaku konsumen ramah lingkungan diperlukan
pengetahuan mengenai lingkungan. Dengan melakukan
pengujian ini kita
dapat menumbuhkan perilaku konsumen
hijau untuk kepedulian terhadap masa depan yang ramah lingkungan. Dan
sejalan dengan penelitian dari Shiel (2019) yang didapatkan hasil bahwa adanya
hubungan yang positif antara kepedulian terhadap masa depan pada nilai konsumsi hijau,
Kepedulian terhadap masa depan pada perilaku pembeli
dan kepedulian terhadap masa depan pada sikap prososial. Maka disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan sama-sama sejalan dengan penelitian shiel
(2019) yang dimana hasilnya mempengaruhi antara variabel kepedulian terhadap
masa depan pada nilai konsumsi hijau,perilaku pembeli dan sikap prososial. Juga
penelitian dari (Khan dan Mohsin 2017) yang mendapatkan hasil penelitian bahwa
adanya hubungan positif antara
kepedulian terhadap masa depan dan sikap prososial. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa semakin
tinggi kepedulian terhadap masa depan maka semakin meningkatkan nilai konsumsi
hijau, perilaku pembeli, dan sikap prososial.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengunakan analisa data
yang sudah dilakukan dengan mengunakan uji validitas, uji reabilitas, uji
korelasi , uji regresi, uji R square, uji F simultan, uji T parsial didapatkan
beberapa kesimpulan penelitian, yaitu: (1)Kepedulian terhadap masa depan
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap nilai konsumsi hijau, (2)Kepedulian
terhadap masa depan memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap
perilaku pembeli, (3)Kepedulian terhadap masa depan memiliki berpengaruh secara
signifikan terhadap sikap prososial.
DAFTAR PUSTAKA
Akenji, L. (2014). Consumer scapegoatism and limits to green
consumerism. Journal of Cleaner Production, 63, 13–23. http://doi.org/10.1016/j.jclepro.2013.05.022
Aronson E, Wilson
TD, Akert RM (2005) Psikologi
sosial, edisi ke-5. Pendidikan Pearson,
Upper Saddle River
Blackwell, R. D., Miniard, P. W., &
Engel, J. F. (2012). Consumer
Behavior. Singapore: Cengage Learning Asia Pte Ltd.
Biswas, A., & Roy, M. (2015). Green products : an exploratory
study on the consumer behaviour in
emerging economies of the East. Journal of Cleaner Production, 87, 463–468.
Carrington, M.J., Chatzidakis, A., Goworek, H.,
Shaw, D., 2021. Consumption ethics: a review and analysis of future directions
for interdisciplinary research. J. Bus. Ethics 168, 215–238.
Davari, A., Iyer,
P., Strutton, D., 2017. Investigating moral links between
religiosity, altruism, and green consumption. J. Nonprofit Public
Sect. Mark. 29 (4), 385–414.
Dollahite, D.C., Marks,
L.D., Wurm, G.J., 2019. Generative devotion: a theory
of sacred relational care in families of faith. J.
Fam. Theory Rev. 11 (3), 429–448.
Edbring, E.G., Lehner,
M., Mont, O., 2016. Exploring consumer attitudes to alternative models
of consumption: motivations and barriers. J. Clean. Prod. 123 (4), 5–15
Erikson, E. (1950).
Childhood and society.
New York: Norton.
Ern, S.T.C.,
Dastane, O., Haba, H.F., 2022. Green consumption values and consumer behavior:
evidence from Singapore. In: Innovative Economic, Social, and Environmental Practices for Progressing Future Sustainability. IGI Global, pp. 81–101.
Freestone, O.M.,
McGoldrick, P.J., 2008. Motivations of the ethical consumer. J. Bus. Ethics 79
(4), 445–467.
Handyanto Widjojo,
B.R. Yudianto, 2015, 'Factors considered by Indonesian youth in buying green
product', Purushartha, vol. VII, hal. 13-26.
Haws, K.L.,
Winterich, K.P., Naylor, R.W. (2014). Seeing the world through GREEN-tinted
glasses: green consumption values and responses to environmentally friendly
products. Journal of Consumer Psychology, 24(3), 336-354.
Khan, M.S.,
Saengon, P., Alganad, A.M.N., Chongcharoen, D., Farrukh, M., 2020. Consumer
green behaviour: an approach towards environmental sustainability. Sustain.
Dev. 28 (5), 1168–1180.
Khan, SN, &
Mohsin, M. (2017). Strength of
emotional value: Exploring the effects
of consumer choice behavior for environmentally friendly
products. Journal of Net Production, 150, 65– 74.
Klein, Benjamin,
dan Keith B. Leffler.1981. “Peran Kekuatan Pasar dalam Menjamin Kontrak.”
Jurnal Ekonomi Politik89 (4): 615–41.
Kotre, J. (1984). Outliving the self. Baltimore, MD: Johns Hopkins
University Press.
Lim, W.M., 2020.
The sharing economy: a marketing perspective. Australas. Mark. J. 28 (3), 4– 13.
Liobikienė, G., & Bernatonienė, J. (2017). Why determinants of green purchase
cannot be treated equally? The case of green cosmetics: Literature review. Journal
of Cleaner Production, 162, 109–120. https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2017.05.204
Mas’od,
A., & Chin, T. A. (2014). Determining Socio-Demographic, Psychographic and
Religiosity of Green Hotel Consumer in Malaysia. Procedia - Social and
Behavioral Sciences, 130, 479–489. http://doi.org/10.1016/j.sbspro.2014.04.056
Osgood, J.M., Muraven, M. (2015). Self-control depletion does not diminish attitudes
about being prosocial but does
diminish prosocial behaviors. Basic and Applied Social Psychology. 37, 68-80.
Paço, A., Alves,
H., Shiel, C., Leal Filho, W. (2014). An analysis of the measurement of the
construct “buying behaviour” in green marketing. Journal of Integrative and Environmental
Sciences, 11(1), 55-69.
Paço, A., Alves, H., Shiel, C., Leal Filho,
W. (2013a). Development of a green consumer behavior model. International Journal of
Consumer Studies. 37, 414-429.
Panda, T.K., Kumar,
A., Jakhar, S., Luthra, S., Garza-Reyes, J.A., Kazancoglu, I., Nayak, S.S.,
2020. Social and environmental sustainability model on consumers’ altruism, green purchase intention, green brand loyalty
and evangelism. J. Clean. Prod. 243, 118575
Papalia, D. E., & Feldman, R. D. (2014).
Menyelami perkembangan manusia,
ed. 12 Buku 2.
Jakarta: Penerbit
Salemba Humanika
Ronnie Irawan
& Dahlia Darmayanti, 2008, 'The influence
factors of green
purchasing behavior : A study of university students in
Jakarta', Proceeding of 6th Asian Business Research Conference, hal.1-11.
Schallehn, H.,
Seuring, S., Str¨ahle, J., Freise, M., 2019. Customer experience creation for
After- use
Schwartz, S.H.,
1973. Normative explanations of helping behavior: a critique, proposal, and
empirical test. J. Exp. Soc. Psychol. 9 (4), 349–364.
Seegebarth, B.,
Peyer, M., Balderjahn, I., Wiedmann, K.P., 2016. The sustainability roots of
anticonsumption lifestyles and initial insights regarding their effects on
consumers’ well- being. J. Consum. Aff. 50 (1), 68–99.
Shaw, D., McMaster,
R., Newholm, T., 2016. Care and commitment in ethical consumption: an
exploration of the ‘attitude–behaviour gap’. J. Bus. Ethics 136 (2), 251–265.
Sheth, J.N.,
Newman, B.I., Gross,
B.L., 1991. Why we buy what we buy: a theory of consumption
values. J. Bus. Res. 22 (2), 159–170.
Shiel C, Paço Ad,
Alves H, Generativity, sustainable development and green consumer
behavior,Jurnal Produksi Bersih(2019),
doi:https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2019.118865.
Talwar, S., Dhir, A., Kaur, P., M¨antym¨aki, M., 2020. Why do people
purchase from online travel
agencies (OTAs)? A consumption values perspective. Int. J. Hosp. Manag. 88,
102534.
Tandon, A., Kaur,
P., Bhatt, Y., M¨antym¨aki, M., Dhir, A., 2021. Why do people purchase from food delivery apps? A consumer value
perspective. J. Retail. Consum. Serv. 63, 102667.
Vicente-Molina,
M.A., Fern´andez-Sainz, A., Izagirre-Olaizola, J., 2018. Does gender make a
difference in pro-environmental behavior? The case of the Basque Country
University students. J. Clean. Prod. 176 (1), 89–98.
Zabkar, V., Hosta,
M. (2013). Willingness to act and environmentally conscious consumer behaviour: can prosocial status perceptions help overcome the gap? International Journal of Consumer
Studies. 37, 257–264.


Komentar